Ibrani 10:19-25
Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh …. (Ibr. 10:22)
Kemarin kita merenungkan, Yudas berpura-pura baik kepada orang miskin, padahal ia menginginkan uang hasil penjualan minyak narwastu murni itu. Hari ini, kita akan merenungkan arti tulus ikhlas dan bagaimana kita bisa memiliki hati yang tulus ikhlas.
Penulis surat Ibrani mengajak pembacanya untuk menghadap Allah dengan tulus ikhlas. Apa arti tulus ikhlas? Dalam bahasa aslinya, tulus ikhlas berarti lurus, benar, murni. Dikaitkan dengan konteks ayat ini, menghadap Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas berarti motivasi, tujuan, kehendak kita dekat dengan Tuhan, benar-benar untuk Tuhan, bukan untuk diri sendiri, kepentingan-kepentingan pribadi dan hal-hal yang duniawi. Apa dasarnya sehingga kita perlu menghadap-Nya dengan hati yang tulus ikhlas? Yesus adalah Imam Besar (ay. 20) yang mengurbankan diri-Nya sehingga membuat orang bisa hidup dekat dengan Allah. Pengurbanan Yesus juga menjadi bukti sekaligus jaminan kalau Allah itu setia (ay. 23). Ia setia, sehingga merelakan anak-Nya menderita dan mati demi mengasihi manusia.
Paulus berkata, jika Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri untuk menderita dan mati, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan apa yang baik untuk umat-Nya? (Rm. 8:32). Menghayati cinta Tuhan yang sempurna, yang rela menderita dan mati untuk kita, mestinya membuat kita bisa hidup tulus ikhlas: hidup untuk memuliakan nama-Nya.
DOA: Ya Tuhan, mampukan kami menghayati kasih dan pengurbanan-Mu sehingga bisa hidup tulus ikhlas untuk kemuliaan-Mu. Amin.
Mzm. 20; Kel. 40:1-15; Ibr. 10:19-25