">
Ulangan 29:2-20
"Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita ...." (Ul. 29:18)
Jika sudah berpaling meninggalkan Allah Sang Pencipta, maka manusia dapat menjadi makhluk yang kejam bagi sesamanya. Ia buta terhadap cinta kasih, kebenaran, dan keadilan. Bahkan, tega membunuh sesama yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Lima belas tahun lalu, tepatnya 7 September 2004, hal seperti itu terjadi. Seorang pejuang kebenaran dan keadilan, Munir Said Thalib, dibunuh dengan racun di pesawat GA-974. Sungguh, pembunuh dan perancang pembunuhan itu adalah orang-orang yang sudah berpaling dari TUHAN.
“Tidak berpaling meninggalkan TUHAN,” itulah yang mestinya umat Israel lakukan dalam hidup mereka. Musa menyampaikan pesan itu sebelum umat Israel masuk ke tanah Kanaan. Ia juga mengingatkan umat tentang segala hal yang dilakukan TUHAN di tanah Mesir dan di sepanjang padang gurun. Ada banyak berkat yang dicurahkan Allah. Oleh karena itu, Musa rindu umat Allah itu selalu mengarahkan hati kepada TUHAN, bukan kepada berhala-berhala. Dengan selalu taat dan setia kepada TUHAN, umat akan mampu menjadi “akar” yang meneruskan berkat, bukan kutuk atau racun atau ipuh bagi sesama dan seluruh ciptaan Allah.
“Tidak berpaling meninggalkan TUHAN,” itulah yang mestinya menjadi komitmen kita. Dengan komitmen ini, kita mau lebih mengutamakan kehendak Allah daripada kehendak kita sendiri. Dengan komitmen ini, kita juga merayakan kebenaran dan keadilan bagi sesama kita demi kemuliaan nama TUHAN.
REFLEKSI: Perjalanan hidup di dunia ini akan menjadi indah dan damai jika kita hidup dengan selalu mengarahkan hati kepada TUHAN.
Mzm. 1; Ul. 29:2-20; Mat. 10:34-42