06 August 2019 / Renungan Harian

TENANGKAN HATIMU


media

TENANGKAN HATIMU
Pengkhotbah 3:16 — 4:8

Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin. (Pkh. 4:6)

Seorang bapak bercerita, ia baru bisa berenang setelah berusia 39 tahun. Sejak kecil dia takut berenang, karena takut tenggelam. Namun, suatu ketika ia berada di kolam renang yang dalamnya 2 meter, ia menenangkan hati, menaklukkan ketakutannya lalu mulai berenang. Itulah awalnya ia bisa berenang. Ya, untuk bisa berenang orang mesti masuk ke dalam kolam, bukan berada di tepi kolam dan berteori.

Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari Pengkhotbah 4:6 berbunyi, “Mungkin itu benar, tetapi lebih baik harta sedikit disertai ketenangan hati daripada bekerja keras menggunakan dua tangan dan mengejar angin.” Terjemahan ini membuat kita lebih memahami hal yang hendak disampaikan oleh Pengkhotbah tentang hidup. Hidup ditentukan oleh sikap hati dalam melihat segala sesuatu; segalanya akan baik, ketika kita bisa merespons dengan hati yang baik. Stephen R. Covey dalam Seven Habits mengatakan, “Banyak orang disakiti bukan oleh perbuatan orang lain, tetapi disakiti oleh responsnya sendiri.”

Merespons dengan hati yang benar, penting dilakukan dan berguna menumbuhkan kedewasaan kita. Hati yang tenang diperlukan untuk bisa melewati persoalan-persoalan dalam hidup ini. Hati yang tenang tentunya bukanlah hati yang pasif. Hati yang tenang justru adalah hati yang aktif; hati yang dipenuhi ucapan syukur, berdoa, percaya, semangat dan mengerjakan segala hal baik lainnya.

DOA:

Tuhan Yesus jadikanlah hatiku tenang, karena Engkau bersamaku. Amin

Mzm. 127; Pkh. 3:16—4:8; Kol. 4:2-6

Latest ARTICLE