25 June 2019 / Renungan Harian

TEMPAT KEDIAMAN ALLAH


media

TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Efesus 2:11-22

Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. (Ef. 2:22)

Tanggal 27 Juni 2016 di tengah arus pembicaraan dan sikap Gereja, termasuk di Indonesia terhadap kaum LGBT, Paus menyatakan kepada wartawan bahwa Gereja Katolik harus meminta maaf kepada kaum gay yang merasa tersinggung oleh sikap Gereja yang menghakiminya. Gereja harus meminta maaf kepada kaum terpinggirkan, orang-orang miskin, para wanita dan anak-anak yang dipaksa bekerja dan angkat senjata yang selama ini diabaikan. Paus berusaha menciptakan ruang rekonsiliasi, sekaligus sikap berbalik atau bertobat. Dari sikap yang cenderung berseteru kepada sikap yang saling merangkul dan membangun hidup.

Umat dipisahkan antara yang Yahudi dan bukan Yahudi; disunat dan tidak disunat; juga yang bukan lagi pendatang atau orang asing. Rasul Paulus mengingatkan bahwa melalui Kristus semua orang dipersatukan. Perseteruan sebagai tembok pemisah dihancurkan. Semua orang menjadi orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Dalam Kristuslah kita semua dibangun menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh yang membawa damai.

Perbedaan selalu menjadi pemisah antarmanusia. Tindakan Paus di atas menunjukkan karakter murid Kristus sejati, yaitu mendorong untuk menyatukan hidup; saling mendukung, saling memaafkan, saling merangkul dan membangun hidup. Kita semua diingatkan sebagai kediaman Allah yang harus menghadirkan kedamaian.

DOA:

Allah Bapa yang penuh kasih karunia, jadikanlah kami kediaman Roh-Mu yang mampu menghadirkan kedamaian. Amin.

Mzm. 64; Ayb. 19:1-22; Ef. 2:11-22

Latest ARTICLE