Ibrani 10:32-39
Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibr.10:39)
Dalam Gereja Protestan, ada tradisi untuk mengaku percaya atau sering juga disebut sidi. Pengakuan percaya dilakukan oleh warga gereja yang telah dibaptis pada waktu kecil atau pada masa dewasanya, dengan menyatakan iman percayanya secara mandiri. Sebagian orang melakukannya hanya sekadar sebagai tradisi atau karena malu: "sudah berusia pemuda, kok belum sidi?" Namun, ada juga orang yang menunda sidi karena merasa belum siap untuk menerima tanggung jawab sebagai warga gereja dewasa.
Menjadi pengikut Kristus berarti menerima tanggung jawab yang besar. Bahkan, tanggung jawab itu sering melibatkan pula penderitaan. Saat memilih untuk menjadi pengikut Kristus, ada orang yang harus mengorbankan berbagai kenyamanan dan fasilitas yang tadinya dimiliki. Bahkan, ada orang yang harus menderita aniaya fisik. Namun, Surat Ibrani memberikan kesaksian bahwa orang yang tekun menjalaninya sebenarnya sedang menuju hidup; hidup yang sejati karena bersama Sang Pemilik kehidupan. Hal itu akan dialaminya jika ia tetap tekun dan tidak berhenti karena ketakutan.
Hidup di tengah keberagaman bangsa Indonesia sering mengharuskan kita menderita karena menjadi orang Kristen. Namun, bukan berarti penderitaan itu sia-sia. Penderitaan itu adalah bagian dari konsekuensi pilihan kita untuk percaya dan mengikut Kristus. Saat kita tekun dalam penderitaan itu, hidup sejatilah yang kita jalani.
Doa:
Tuhan, ajarlah kami untuk selalu tekun dalam penderitaan mengikut Engkau. Amin
Mzm.82; 1Sam.5:1-12; Ibr.10:32-39