TAKUT AKAN TUHAN
Kisah Para Rasul 9:19b-31
Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. (Kis. 9:31)
Salah satu perbedaan mendasar antara manusia dan binatang adalah manusia mampu berpikir kreatif dan reflektif, tidak hanya intuitif. Dengan kreativitasnya, manusia mampu menciptakan hal-hal yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kreativitas adalah karunia yang dimiliki manusia sejak lahir. Bisa dikatakan kreativitas adalah tanda dari seorang manusia.
Sebagai orang-orang Kristen, kita seumpama manusia yang disebutkan di atas. Karena Tuhan sudah menyelamatkan kita dan memberi kesempatan hidup kedua kepada kita, maka kita pun mengucap syukur kepada Tuhan dalam bentuk sikap takut akan Dia. Urutannya tidak bisa dan tidak boleh dibalik. Kita diselamatkan terlebih dahulu oleh Tuhan, karena itu kita menjadi takut akan Tuhan, bukan sebaliknya. Dengan demikian sikap takut akan Tuhan merupakan tanda bahwa kita sudah diselamatkan dan diberi anugerah kesempatan hidup kedua oleh Tuhan. Kalau kreativitas merupakan tanda bahwa kita lahir sebagai manusia, maka ucapan syukur merupakan tanda telah menerima keselamatan.
Itulah pula yang terjadi dalam kehidupan jemaat perdana. Mereka menyadari diri mereka sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan oleh Tuhan. Sebagai bentuk ucapan syukur mereka kepada Tuhan, maka mereka hidup dalam sikap takut akan Tuhan. Sikap hidup itulah yang membuat mereka bertambah secara kuantitas dan kualitas. Sikap hidup takut akan Tuhan itu juga yang membuat mereka bisa hidup dalam damai.
REFLEKSI:
Takut akan Tuhan adalah tanda bukti bahwa kita adalah orang-orang yang telah diselamatkan.
Mzm. 121; Yeh. 1:1-25; Kis. 9:19b-31