10 November 2016 / Renungan Harian

Sadar Diri


media

Sadar Diri

Roma 1:18-25

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya (Rm.1:21)

Kapan seseorang menggapai puncak kehidupannya? Tentu jawabannya beragam. Ada yang berpendapat puncak hidup digapai ketika seseorang sukses, punya jabatan tinggi, atau menjadi terkenal. Sedangkan, menurut orang Jawa zaman dulu, puncak hidup digapai ketika seseorang sadar diri.

Bayangkan anda berada di puncak tertinggi gunung Himalaya, apa yang akan anda rasakan? Orang umumnya akan merasa takjub bahwa ia sampai di puncak, dan ketika memandang bumi dan melihat langit, ia akan menemukan kesadaran betapa kecilnya manusia di hadapan Sang Pencipta. Kesadaran diri itulah puncak hidup manusia; dia memahami siapa dirinya dan siapa Allahnya dalam kehidupan ini. Karena itu, konon musuh terbesar dalam hidup iman adalah khilaf atau ketidaksadaran. Hal itu diingatkan dalam surat Roma 1:18-25 yang menggambarkan betapa bebalnya manusia. Allah telah memperkenalkan diri-Nya melalui karya-Nya dan hal itu tidak dapat disanggah. (ay.20). Namun, tetap saja manusia mengabaikannya. Lebih parah lagi, manusia yang mengenal Allah malah menyingkirkan Dia (ay.23). Itulah manusia dalam kondisi lupa ingatan atau tidak sadar diri.

Zaman sekarang orang mudah lupa diri dan terlena. Karena itu, semoga karya dan kasih Allah senantiasa menyadarkan kita. Supaya kita tetap sadar diri, sadar siapa kita di hadapan Allah dan tidak mudah khilaf, maka mari kita melakukan semua langkah sehari-hari dengan penuh kesadaran.

 


Refleksi:

Manusia yang sadar adalah manusia yang bangun, sedang mereka yang tidak sadar adalah manusia yang tidur.

 

Mzm.98; 1Sam.28:3-19; Rm.1:18-25

Latest ARTICLE