RASA CUKUP
Lukas 11:1-13
“Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya ….” (Luk. 11:3)
Pemborosan adalah sebuah pelanggaran etis. Mengapa? Karena ada banyak orang yang mati kelaparan, mengalami busung lapar dan meratap dalam kemiskinan, sementara orang yang boros berfoya-foya. Pemborosan menutup kesempatan kita berbagi dengan sesama yang membutuhkan uluran tangan kasih.
Lukas membingkai ajaran Yesus tentang doa kepada murid-murid-Nya dengan perspektif kasih kepada sesama. Dalam ayat 5-8 ia mengingatkan perihal memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Kasih kepada sesama tidak akan pernah membuat manusia kekurangan, sebab Bapa selalu mengasihi manusia: orang baik maupun orang jahat (ay. 9-13). Supaya bisa berbagi, Yesus mengajar para murid untuk meminta apa yang dibutuhkan dan memakai berkat Tuhan secara cukup, “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya.” Hanya dengan rasa cukup inilah orang bisa berbagi, sebab rasa cukup itu telah memperkaya dirinya. Alhasil, orientasinya bukan lagi materi atau diri sendiri, melainkan sesama manusia.
Rasa cukup, penting untuk kita kembangkan sebagai modal untuk memutus kutuk pemborosan, sekaligus membuka kesempatan bagi kita untuk berbagi dengan sesama. Dengan merasa cukup, maka yang menjadi orientasi bukan menumpuk harta, atau sekadar memuaskan hasrat hedonis dalam diri sendiri, melainkan menjalani hidup dalam bimbingan Tuhan dan menikmati hal berbagi sebagai berkat-Nya.
REFLEKSI:
Rasa cukup merupakan kekayaan jiwa yang memampukan manusia untuk berbagi secara sederhana dengan sesama.
Kej. 18:20-32; Mzm. 138; Kol. 2:6-15 [16-19]; Luk. 11:1-13