...supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa..." (Mat. 6:18)

">


14 February 2018 / Renungan Harian

Puasa


media

Puasa

Matius 6:1-6, 16-21

"...supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa..." (Mat. 6:18)

Istilah "puasa" berasal dari bahasa Sankerta. Upa dan wasa. Upa berarti mendekatkan diri dan wasa berarti Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, tujuan berpuasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Hari ini gereja memasuki masa pra-paskah, yang diawali dengan Rabu Abu. Ada gereja yang mengadakan kebaktian Rabu Abu, yang memberi tempat khusus pada pentingnya pertobatan sehingga kebaktian Rabu Abu disebut juga kebaktian tobat. Sebagai pernyataan pertobatan, puasa adalah ritual yang penting. Tidak mengherankan bila tentang puasa, Tuhan Yesus pun memberi penekanan dalam khotbah-Nya. Orang yang berpuasa akan mendapat tempat khusus di hati Bapa asalkan mereka tetap bersikap wajar dan tidak pamer kesalehan. Rasa haus dan lapar diterima selaras dengan kekuatan raga.

Nah, bagaimanakah orang Kristen berpuasa? Berpuasa lebih ditempatkan sebagai olah kesadaran, menyadari rasa lapar dan haus, menyadari kelemahan manusiawi. Tentu puasa itu dilandasi dengan tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, puasa pun menjelma menjadi latihan rohani untuk mengasah kepekaan batin. Puasa mestinya tidak hanya berhenti pada urusan perut, tetapi bergerak lebih lanjut hingga menjangkau segi batiniah yang tersembunyi. Dengan pemahaman itu, pembaruan budi hingga revolusi mental kiranya bisa terjadi dengan berpuasa.

 


DOA:

Tuhan, kami ingin berkomitmen agar pertobatan kami tidak hanya sebatas mulut dan perut. Amin.


Yl. 2:1-2, 12-17; Mzm. 51:1-19; 2Kor. 5:20b-6:10; Mat. 6:1-6, 16-21

Latest ARTICLE