17 September 2019 / Renungan Harian

PERTOBATAN YANG MENYELAMATKAN


media

Yunus 3:1-10

Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya .... (Yun. 3:10)

Adalah menarik untuk mencermati kisah pertobatan kota Niniwe sebagaimana tertulis dalam Kitab Yunus ini. Kota ini menyadari kejahatannya dan menyatakan bertobat di hadapan Allah. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, manusia dan hewan, raja dan rakyat biasa semua menjalani aksi pertobatan. Aksi pertobatan itu tulus dan sungguh-sungguh, yaitu dengan mengenakan kain kabung, duduk di abu, dan berpuasa. Mereka memohon ampun kepada Allah atas segala kejahatan mereka. Kata mereka, “Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa” (ay. 9).

Allah ternyata bukanlah Allah yang mendendam. Allah segera mengampuni mereka. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu … maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukan-Nya.” Berapa pun besarnya kejahatan Niniwe, asalkan pertobatan sungguh dilakukan, Allah pun memberi pengampunan dan keselamatan. Kasih Allah berlimpah bagi setiap orang yang sungguh bertobat kepada-Nya.

Dari kisah kota Niniwe, kita belajar satu hal penting tentang pertobatan kepada Allah. Pertobatan bukanlah sekadar pernyataan atau janji, tetapi yang terutama adalah perbuatan nyata yang tulus dan serius. Tentu saja, pertobatan mengandalkan iman dan pengharapan bahwa Tuhan itu Mahakasih dan Mahapengampun.

REFLEKSI: Pertobatan yang menyelamatkan berlangsung melalui perbuatan nyata yang tulus dan serius untuk mengutamakan hanya kehendak Allah.

Mzm. 73; Yun. 3:1-10; 2Ptr. 3:8-13

Latest ARTICLE