" (Yer. 19:10)
">
Yeremia 19:1-15
"Selanjutnya pecahkanlah buli-buli itu di depan mata orang-orang yang turut bersama-sama engkau." (Yer. 19:10)
Mengajak anak-anak berkunjung ke tempat perajin tembikar selalu membuat mereka antusias. Apalagi ketika mereka ikut dalam proses pembuatan gerabah itu. Tanah liat diaduk-aduk seperti adonan roti, kemudian diletakkan di atas alas pitar, disanalah keterampilan jari akan menentukan bentuk tembikar yang diinginkan. Jika bentuk yang hampir jadi tidak sesuai dengan keinginan maka adonan itu akan diremas dan dibentuk kembali asalkan belum mengering.
Gambaran tukang periuk dipakai Allah untuk menjelaskan kondisi umat Allah dalam Yeremia 18. Semula Allah mengingatkan dan berharap umat Israel dapat berubah dan dibentuk kembali sesuai dengan kehendak-Nya. Namun, ternyata mereka memilih mengeraskan hati. Mereka lebih tertarik dalam ritual penyembahan kepada Baal. Bahkan tak segan mempersembahkan anak-anak mereka kepada Baal.
Bagai tanah lempung yang telah menjadi buli-buli, tidak mungkin dibentuk kembali. Allah meminta Yeremia memecahkan buli-buli yang dibeli dengan mahal di depan bangsa itu sebagai peringatan. Meskipun tadinya Israel begitu berharga tetapi karena mereka mengeraskan hati, memilih hidup berkanjang dalam dosa, maka Allah tidak segan-segan menghukum mereka (ay. 8,9). Selalu ada peringatan sebelum Allah menghukum umat-Nya, peringatan dan hukuman itu adalah bagian dari kasih-Nya. Jangan mengeraskan hati bila Allah mengingatkan kita.
Refleksi:
Berbaliklah kepada Allah ketika Ia mengingatkan kita.
Mzm. 62:5-12; Yer. 19:1-15; Why. 18:11-20