Yohanes 13:1-17
kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. (Yoh. 13:5)
Esensi dasar kepemimpinan adalah melayani. Hal ini yang sering dilupakan orang. Alih-alih melayani, ada banyak orang pemimpin yang justru menuntut dilayani. Mereka menggunakan jabatan dan kekuasaan justru untuk menekan mereka yang semestinya dilayani.
Dalam tradisi Yahudi, pembasuhan kaki harus dilakukan orang yang lebih muda atau lebih rendah derajat sosialnya. Ini sebagai bentuk penghormatan. Namun, dalam hubungan Yesus dengan para murid-Nya, kewajiban itu justru dilakukan Yesus. Ia membasuh kaki semua murid-Nya. Tentu saja mereka menjadi segan. Hal itu jelas tabu atau tidak pantas. Namun, sesungguhnya Yesus sedang mengajarkan bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah melayani. Itulah esensi dasar kepemimpinan yang sering dilupakan orang. Yesus memberikan teladan dengan tindakan nyata. Pelayanan bukan sekedar niat hati, tetapi tindakan konkret.
Berbeda dengan kepemimpinan pada umumnya, kepemimpinan yang diajarkan Yesus adalah kepemimpinan yang melayani. Yesus telah memberi teladan dan Ia juga meminta kita melakukannya. Semua orang percaya adalah pemimpin. Bila model kepemimpinan kita adalah kepemimpinan yang melayani, maka meneladani apa yang dilakukan Yesus adalah keharusan. Keharusan ini tidak berhenti pada sikap hati, tetapi harus menjadi tindakan nyata dalam kehidupan.
Refleksi:
Pemimpin yang tidak melayani bukanlah pemimpin yang baik untuk dicontoh.
Mzm. 131; Yer. 13:1-11; Yoh. 13:1-17