1 Korintus 6:1-11
Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan? (1Kor.6:7)
Hidup dalam kebersamaan tentu tidak lepas dari perselisihan, entah dengan saudara seiman atau dengan orang yang berbeda keyakinan. Dalam hal terjadinya perselisihan, hal yang penting adalah cara kita mengatasinya.
Kepada jemaat Korintus, Paulus memberi nasihat bahwa sebisa mungkin mereka tidak melakukan tuntutan hukum saat berselisih paham. Tuntutan hukum itu membuktikan bahwa mereka belum dapat saling mengampuni sekaligus membuktikan kekalahan rohani. Bagaimana seseorang tertarik kepada kekristenan jika orang Kristen sendiri tidak mampu menerapkan nilai-nilai kristiani? Tuntutan hukum hendaknya menjadi pilihan terakhir, jika cara-cara untuk berdamai menemui jalan buntu dan pihak yang bersalah tetap bersikeras (band. Mat.18:15-17). Dalam kasus-kasus tertentu, tuntutan hukum menjadi jalan yang tepat seperti banding yang diajukan Paulus sendiri. Namun, dalam kasus-kasus lain, Paulus menyarankan agar jemaat "lebih suka menderita ketidakadilan" atau "lebih suka dirugikan" (ay.7). Jadi, lebih baik dirugikan atau diperlakukan tidak adil daripada makin menjauhkan orang lain dari Kristus.
Menggunakan pendekatan hukum untuk mengatasi masalah boleh saja dilakukan setelah kita memohon hikmat Tuhan (Yak.1:5). Namun, kita perlu bertanya: apa yang lebih penting atau apa yang ingin diperjuangkan? Biarlah dunia menilai kita salah, tetapi kita benar di hadapan Allah
Doa:
Tuhan, berilah kami hikmat agar kami tahu kapan kami harus mengalah ketika kami bermasalah dengan orang lain. Amin.
Mzm.57; 1Sam.25:2-22; 1Kor.6:1-11