ONLY LOVE CAN SAVE US
Efesus 5:6-21
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Ef. 5:15-16)
Only Love Can Save Us (Hanya Kasih yang Menyelamatkan Kita) adalah judul buku dari Jorge Mario Bergoglio yang kini dikenal dengan nama Paus Fransiskus. Dalam buku itu, ia antara lain merefleksikan fenomena “pintu tertutup” sebagai pengalaman eksistensial manusia yang kini merasa terancam dan takut dengan orang asing.
Dalam bacaan hari ini, Paulus menyebutkan juga pengalaman negatif yang ia gambarkan sebagai hari-hari yang jahat. Pengalaman ini dapat terjadi, sebab orang menutup hatinya dari anugerah Allah. Anugerah Allah adalah pelita dalam kegelapan. Allah tidak mengutuk kegelapan, melainkan hadir sebagai terang dalam dunia yang gelap. Dengan membuka hati bagi anugerah-Nya, maka terang itu akan menuntun orang untuk hidup dengan bijaksana dalam waktu yang Ia berikan. Hidup dengan bijaksana berarti memberi contoh. Pengalaman negatif menyediakan kesempatan bagi orang percaya untuk menyalakan pelita, memperlihatkan terang, menghadirkan contoh yang baik, dan sekaligus meneguhkan bahwa harapan itu masih ada.
Pengalaman manusia hari-hari ini mungkin tampak menakutkan. Ada kejahatan yang merajalela, sehingga banyak orang menutup pintu. Bukan hanya pintu rumah fisik bagi orang asing, tetapi juga pintu hati yang eksistensial, seperti yang dikatakan Paus Fransiskus di atas. Dalam situasi yang demikian, kita perlu hidup bijaksana dengan membuka hati bagi kasih yang Allah anugerahkan bagi kita, sebab only love can save us.
REFLEKSI:
Membuka pintu hati bagi anugerah Allah berarti mengizinkan kasih mengangkat ketakutan dan memberi harapan di tengah kegalauan.
Mzm. 140; Yer. 3:15-18; Ef. 5:6-20