MULAI DARI DIRI SENDIRI
Roma 7:14-26
Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (Rm. 7:15)
“Kumulai dari diri sendiri/untuk melakukan yang terbaik/Kumulai dari diri sendiri/hidup jujur dengan hikmat Tuhanku ….” Demikian penggalan lagu Gita Bakti 69, karya Pontas Purba. Lagu ini mengajak kita untuk memulai perubahan dari dalam diri sendiri sebagai buah dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Perubahan itu sendiri adalah sebuah proses yang tidak mudah. Paulus melukiskannya sebagai sebuah pergumulan yang saling bertentangan antara apa yang diingini dan apa yang dilakukan. Karena bukan apa yang dikehendaki yang dilakukan, tetapi justru apa yang dibenci. Yang baik yang dihasratkan, namun yang jahat yang dikerjakan. Mengapa? Sebab sisi baik dan buruk itu selalu hadir; ada sebagai bagian keberadaan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Pemberontakan kepada Allah yang membuahkan kejahatan itu selalu membayangi manusia, sehingga manusia terus berjuang dengan dirinya. Itulah yang dialami oleh Paulus, yang dalam perjuangannya ia tidak hanya memerlukan Taurat, tetapi juga anugerah Allah dalam Yesus Kristus.
Seperti Paulus yang berjuang dalam kemanusiaannya untuk menjadi pribadi yang dikehendaki Allah, demikian juga kita. Sering kita menginginkan yang baik, tetapi yang jahatlah yang dilakukan. Karena itu, seperti syair lagu Purba, kita harus terus berupaya, mulai dari diri sendiri melakukan yang terbaik dalam tuntunan hikmat Tuhan. Jatuh, tetapi bangkit dan berusaha lagi, berproses dalam bimbingan kasih dan anugerah-Nya.
REFLEKSI:
Menjadi seperti yang Allah kehendaki tentu membutuhkan perjuangan dari diri sendiri, tetapi meraihnya adalah sebuah kasih karunia.
Mzm. 66:1-9; 2Raj. 21:1-15; Rm. 7:14-26