Mazmur 146
Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. (Mzm. 146:2)
Pada tahun 1934 Pastor Alfons Schaefer, seorang misionaris, melaksanakan pelayanan misionalnya ke satu pedalaman dataran tinggi Papua Nugini. Pastor ini hidup di tengah masyarakat suku Kuman, suku terpencil di pulau itu. Ia mengalami masa-masa awal yang berat dalam misi itu, ketika kesendirian dan keterasingan melingkupi dirinya. Ia sempat berputus asa. Pada suatu malam yang penuh taburan bintang, Schaefer merasa diberdayakan lagi setelah ia menyadari kebaikan Allah melalui lagu yang tiba-tiba diingatnya Weisst du, wieviel Sterne stehen (dalam edisi bahasa Indonesia lihat KJ. 68: Tahukah Kamu Jumlah Bintang). Syair lagu itu menyapa Schaefer bahwa “TUHAN Allah tahu semua, tiada satu dilupa.” TUHAN Allah baik bagi seluruh ciptaan-Nya.
Penulis Mazmur 146 adalah seorang yang menyadari kebaikan Allah di sepanjang kehidupannya. Ia mengecap keselamatan yang datang dari TUHAN, bukan dari dunia atau manusia. Keselamatan dari TUHAN itu abadi dan sejati, dan dekat dengan orang-orang yang diperlakukan tidak adil, yang diperas, terkurung, dan lemah. “TUHAN mengasihi orang-orang benar,” tulis pemazmur (146:8). Oleh karena itu, pemazmur hendak memuliakan TUHAN selama hidupnya, percaya dan setia kepada Dia saja.
Ketika diri merasa risau dan putus asa, baiklah kita hening sejenak dan mengatur nafas kita secara baik. Dalam tarikan nafas yang tenang, kita sadari dan kecap kebaikan Allah dalam hidup kita. Lalu kita mengalami keselamatan-Nya dan memuliakan nama-Nya.
REFLEKSI: Karena Allah itu Mahabesar dan Mahabaik, maka sadarilah bahwa ada lebih banyak kebaikan dalam hidup ini daripada keburukan.
Mzm. 146; Ams. 28:3-10; Ef. 2:1-10