08 September 2019 / Renungan Harian

MENJADI MURID YESUS


media

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku,

ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

(Luk. 14:27)

Dalam tradisi Jawa, kata ‘guru’ merupakan akronim dari “digugu dan ditiru,” artinya “dipercaya dan diikuti.” Ini sebenarnya mau menunjuk pada nasihat bahwa seorang guru itu adalah pribadi yang dipercaya dan diikuti orang lain, yaitu murid. Sebaliknya, seorang murid adalah orang yang percaya dan mengikuti gurunya.

Ketika mengajar banyak orang, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai guru, tepatnya guru yang menyatakan kabar baik (Injil) Kerajaan Allah. Melalui perkataan dan perbuatan, Yesus menunjukkan diri sebagai Pribadi yang layak “digugu dan ditiru.” Tidak lain tujuan-Nya adalah untuk keselamatan dan kebaikan manusia dan dunia ini. Asalkan orang membuka diri untuk percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia, maka keselamatan dan kebaikan pun terjadi dalam hidupnya.

Untuk menjadi murid-Nya, beberapa hal seharusnya diingat dan dikerjakan orang. Melalui dua perumpamaan yang disampaikan Yesus, kita mengetahui hal-hal tersebut. Pertama, melalui perumpamaan orang yang membangun menara Yesus berpesan supaya keputusan menjadi murid-Nya itu merupakan buah kesadaran diri, bukan tindakan asal-asalan atau ikut-ikutan atau karena keterpaksaan. Kedua, melalui perumpamaan raja yang mau berperang, Yesus menegaskan bahwa keputusan menjadi murid-Nya mestinya adalah buah pertimbangan yang matang karena bagaimanapun juga ia harus siap dan sedia lebih mengutamakan kehendak Allah daripada kehendaknya sendiri.

 

REFLEKSI:

Menjadi murid Yesus membutuhkan komitmen tinggi untuk percaya

dan setia meneladani Yesus dalam perkataan dan perbuatan-Nya.

Ul. 30:15-20; Mzm. 1; Flm. 1-21; Luk. 14:25-33

Latest ARTICLE