23 February 2018 / Renungan Harian

Mengikuti Jejak Iman


media

Mengikuti Jejak Iman

Roma 4:1-12

...dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham... (Rm. 4:12)

Ada orang yang sinis terhadap ritual. Mereka menganggap ritual tidak penting karena yang utama adalah hal spiritual saja. Ritual sebagai upacara keagamaan dianggap tidak penting. Sedangkan, hal spiritual dianggap penting dan utama karena itu jiwa dari agama. Masalahnya, haruskah hal yang spiritual dipisahkan dari ritual? Tidak mungkinkah keduanya berdampingan seperti dua sisi mata uang yang sama?

Jemaat Roma yang terdiri dari kelompok Yahudi dan non-Yahudi rupanya sedang mengalami pertentangan tentang sunat. Kelompok Yahudi menganggap sunat sebagai ritual penting. Maunya tradisi dan ritual sunat tetap menjadi bagian dari kekristenan. Masalah terjadi ketika kelompok itu hendak memaksakan tradisi dan ritual tersebut kepada kelompok lain. Padahal, kelompok non-Yahudi tidak mengenal tradisi dan ritual sunat. Terhadap persoalan itu, Paulus mengingatkan kepada jemaat tentang figur Abraham sebagai bapa orang-orang bersunat sekaligus orang-orang yang tidak bersunat.

Jelas, Abraham mempunyai jejak iman. Jejak iman itulah yang seharusnya digali untuk diikuti. Ketika menjalani ritual sunat, Abraham menjalaninya dengan sadar tanpa paksaan. Di sinilah pentingnya menyadari ritual, misalnya, ketika orang melakukan ibadah. Olah kesadaran mutlak diperlukan sehingga ritual ibadah tidak terpisah dari spiritnya. Dengan demikian, ibadah pun tidak kehilangan jiwanya.

 


DOA:

Tuhan, kami ingin menghayati ritual kekristenan dengan iman kami sehingga ritual itu bukan sekadar upacara yang kosong. Amin.


Mzm. 22:24-32; Kej. 16:1-6; Rm. 4:1-12

Latest ARTICLE