Lukas 6:6-11
“Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk. 6:9)
Banyak orang beragama yang menghayati imannya hanya untuk kehidupan nanti tanpa peduli pada kehidupan saat ini; imannya hanya bicara surga dan kehidupan kekal. Pendeta Edmund Chan mengatakan, “Kesalahan mendasar dalam gereja adalah lebih mengarahkan orang untuk masuk surga daripada menghadirkan surga dalam hidup.”
Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat yang selalu mencari-cari kesalahan-Nya dalam melaksanakan hukum-hukum agama dan aturan-aturan di rumah ibadat (ay. 7). Hukum Sabat paling sering dipakai untuk menjatuhkan Yesus. Sabat dianggap sebagai hukum untuk berhenti dari segala hal. Namun, Yesus mendobrak aturan-aturan agama yang mementingkan hukum tetapi mengabaikan kasih dan hidup (ay. 9). Yesus menunjukkan bahwa Sabat bukan berhenti dari segala hal, tetapi melakukan yang dikehendaki Allah dan memuliakan Allah. Yesus lalu bertanya kepada ahli-ahli Taurat tentang aturan Sabat dan tradisi mereka. Mereka semua diam; mereka tidak menjawab karena hukum telah menjadikan mereka orang yang beragama, tetapi tanpa kasih.
Bagaimana dengan kita? Apakah iman kita kepada Allah (agama) membawa kita hidup menyatakan kasih Tuhan kepada sesama? Atau justru menjadikan kita sebagai orang-orang yang menghalangi pernyataan kasih Allah? Ketaatan kepada hukum Allah harus mewujud dalam tindakan menghadirkan kasih dan kehidupan.
DOA: Tuhan mampukanlah saya untuk semakin melayani Engkau dalam hidup setiap hari. Amin.
Mzm. 109:21-31; Yeh. 20:33-44; Luk. 6:6-11