MENGEMBALIKAN RASA MALU
Yeremia 6:10-19
Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. (Yer. 6:15)
Tak dapat dimungkiri, kehidupan publik kita dewasa ini ditandai oleh hilangnya rasa malu. Lihatlah para koruptor atau pencuri uang rakyat yang masih senyam-senyum dan melambaikan tangan di layar kaca. Atau, para pesohor yang mengeksploitasi perceraian dan perselingkuhan mereka demi mendongkrak popularitas.
Dalam kehidupan bangsa Israel, ternyata rasa malu juga absen dalam kehidupan publik sehari-hari mereka. Tidak tanggung-tanggung, para pemimpin masyarakat, bahkan para tokoh agama seperti imam, kehilangan rasa malu. Mereka tidak segan lagi untuk menipu rakyat. Teks-teks suci dan kata-kata manis mereka pakai untuk memanipulasi. Yang penting secara pribadi mereka diuntungkan. Imam tidak kalah egois dan rakus dari seorang politisi kotor. Sungguh memalukan dan menjijikan. Yeremia, bahkan Allah sendiri, geram terhadap perilaku bangsa ini. Karena itu, Yeremia menubuatkan kejatuhan dan keruntuhan mereka sebagai sebuah bangsa. Sikap tidak tahu malu itulah yang membawa mereka menuju kehancuran.
Sejatinya, nubuatan yang disampaikan Yeremia itu bukanlah kutukan, namun ajakan untuk bertobat. Caranya adalah dengan mengembalikan lagi rasa malu. Seandainya koruptor yang senyum-senyum, atau pesohor yang suka kawin cerai untuk ngetop menghidupi rasa malu, mereka tentu akan berpikir sebelum berbuat, atau mengaku dan bertobat setelah melakukan. Namun, bagaimana kalau rasa malu itu sudah tidak ada lagi?
REFLEKSI:
Rasa malu membuat kita hidup sebagai manusia. Kehilangan rasa malu berarti kehilangan kepantasan dan citra diri seorang manusia.
Mzm. 119:73-80; Yer. 6:10-19; Kis. 19:21-27