31 March 2019 / Renungan Harian

MEMILIKI HATI BAPA YANG PENUH KASIH


media

Lukas 15:1-3, 11b-32

“Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” (Luk. 15:22)

Perumpamaan tentang anak yang hilang ini memiliki pesan yang mirip dengan perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang. Kedua anak si bapa ini ‘hilang.’ Satu memilih meninggalkan kasih sayang si bapa, betul-betul hilang. Satu memang tinggal pada bapa, tetapi tidak memiliki kasih dan kepedulian bapa ketika adiknya yang menyesal pulang kembali. Hati yang peduli dan mengampuni dari anak yang tinggal di dalam rumah telah ‘hilang’ juga. Tetapi si bapa sabar dan penuh kasih. Ketika anak yang pergi kembali pulang dan ingin menjadi seorang hamba upahan, si bapa mengenakan jubah, cincin dan sepatu sebagai tanda bahwa pengampunan telah diberikan dan si anak tetap diterima sebagai anaknya.

Kristus mengajar kita untuk memiliki hati si bapa. Bukankah itu yang telah Kristus tunjukkan kepada kita? Saat kita datang dengan penyesalan dan kembali dalam lingkup kasih-Nya, Kristus tidak menolak kita. Tentu kita juga mesti mewaspadai sikap anak bapa yang sulung itu. Ia tetap tinggal di rumah, tetapi ia terlalu tinggi hati untuk menyambut adiknya yang menyesal.

Jika Kristus mengampuni orang yang menyesal dan bertobat, mengapa kita masih mengeraskan hati untuk tidak menyambut orang-orang yang mendapat kesempatan baru dari Allah itu? Dalam lingkup kasih sayang Bapa yang baik, biarlah kita semua saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain di dalam kasih dan pengampunan, agar terwujud damai sejati.

REFLEKSI: 

Mau mengakui dosa dan mengampuni dalam tuntunan pemeliharaan Bapa yang kasih-Nya setia.

Yos. 5:9-12; Mzm. 32; 2Kor. 5:16-21; Luk. 15:1-3, 11b-32

Latest ARTICLE