19 January 2017 / Renungan Harian

Masa Lalu Tak Perlu Disesali


media

Masa Lalu Tak Perlu Disesali

Galatia 1:11-24

Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi:
tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.
(Gal.1:13)

"Nobel" identik dengan penghargaan untuk orang yang luar biasa memperjuangkan perdamaian. Nama dan masa lalu Alfred Bernard Nobel seolah tenggelam dalam bayang-bayang perdamaian. Siapa sangka Nobel pernah dijuluki pedagang kematian. Pria kelahiran Stockholm, Swedia, itu pada tahun 1866 menemukan bahan peledak, dinamit. Semula dinamit digunakan untuk pertambangan dan industri. Namun, kemudian orang menyalahgunakannya menjadi alat pembunuh. Nobel kecewa atas penyalahgunaan penemuannya itu. Akhirnya, Nobel memutuskan untuk menghibahkan harta dan seluruh hak patennya untuk usaha dan penghargaan terhadap pejuang perdamaian. Sebuah perubahan radikal!

Perubahan radikal juga terjadi pada Paulus. Kini namanya lebih dikenal sebagai pemberita Injil ketimbang penganiaya pengikut Kristus. Paulus tidak melupakan masa lalunya. Ia mengingat dengan rinci sejarah hidupnya. Masa lalu itu tidak membelenggunya, tetapi dijadikannya sebagai sebuah kesaksian bahwa Kristus yang penuh kasih karunia itu telah menjumpai, memanggil, dan mengutusnya. Sejak saat itulah, Paulus berjuang total untuk memenuhi panggilannya.

Setiap orang mempunyai masa lalu. Jangan kecil hati atau terbelenggu jika masa lalu kita kurang bagus. Seperti terhadap Nobel dan Paulus, Tuhan pun bisa memakai kita menjadi alat di tangan-Nya. Tinggal kita menanggapinya dengan kesungguhan hati.

 


Refleksi:

Tak perlu menyesali masa lalu, yang penting sekarang jadikanlah hidup ini berarti di dalam Tuhan

 

Mzm.27:1-6; 1Sam.1:1-20; Gal.1:11-24

Latest ARTICLE