24 September 2016 / Renungan Harian

Lebih Penting Daripada Menjadi Orang Penting


media

Lebih Penting Daripada Menjadi Orang Penting

Lukas 9:43b-48

Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk.9:45)

"Malu bertanya sesat di jalan." Pepatah itu menunjukkan perlunya bertanya untuk mendapatkan informasi dan pemahaman yang benar. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas, termasuk dalam hal menerima dan memahami sesuatu. Keterbatasan itu perlu disadari. Dengan begitu, seseorang tidak akan bersikap seolah-olah mengetahui segalanya. Di sisi lain, ia akan terdorong untuk mencari tahu. Salah satu caranya adalah dengan bertanya.

Para murid sebenarnya tidak memahami perkataan Yesus: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Namun, tidak seorang pun mau bertanya. Mungkin mereka malu, jangan-jangan dianggap bodoh oleh yang lain. Gengsi dong! Masing-masing justru ingin menjadi yang terbesar. Para murid saling bertengkar, berebut siapa yang terbesar diantara mereka. Namun, tanggapan Yesus membalikkan segalanya. Ia berkata, "Yang terkecil di antara kamu adalah yang terbesar" --karena yang terpenting bukanlah siapa yang terbesar melainkan siapa yang menyambut Yesus. Menyambut Yesus berarti menyambut kayu salib; menyambut karya Yesus dalam kerendahan.

Setelah sekian lama kita mengikut Yesus, nyata benar bahwa kita tidak mampu menyelami maksud hikmat Tuhan dengan sepenuhnya. Karena itu, kita harus selalu jujur mengakui ketidakmampuan kita. Kiranya Roh Kudus menerangi mata batin kita agar kita dapat memahami kehendak-Nya.

 


Refleksi:

Menyambut Yesus lebih penting daripada menjadi orang Penting

 

Mzm.146; Ams.28:11-28; Luk.9:43b-48

Latest ARTICLE