1 Timotius 4:6-16
Latihlah dirimu beribadah. (1Tim.4:7)
Dengan lincah Om Simon memainkan jari-jarinya di atas tuts piano. Ia mempersembahkan beberapa lagu yang indah. Siapa sangka ia seorang tunanetra? Walaupun penglihatannya buta total, ia seorang pianis yang hebat. Tentu saja, kemampuannya memainkan piano tidak datang dengan sendirinya. Tuhan memang memberinya talenta, tetapi ia juga telah berlatih selama bertahun-tahun tanpa mengenal lelah dan putus asa.
Latihan memang diperlukan dalam kehidupan. Bahkan, menurut Paulus, untuk beribadah pun, kita perlu berlatih. Kadang, karena kemanusiaan kita, beribadah menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan. Paulus mendidik Timotius untuk menjadi seorang pelayan Kristus yang baik. Untuk itu, Timotius harus mempelajari sungguh-sungguh pokok-pokok iman Kristen dan tentu saja harus diimbangi dengan praktik hidup yang baik. Timotius harus melatih diri berdoa, berpuasa, menguasai diri, belajar bermurah hati, dan sebagainya.
Ibadah adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang percaya. Mungkin selama ini kita menganggap beribadah tidak memerlukan latihan, sudah berjalan otomatis. Benarkah? Ternyata masih banyak orang Kristen yang jarang berdoa dan membaca Alkitab. Banyak juga yang malas bersekutu, belum setia dalam persembahan, belum bisa menguasai diri, belum bisa lemah lembut dan bermurah hati. Semua itu membutuhkan latihan. Hati, pikiran, dan tubuh kita perlu dilatih dan dibiasakan dalam melakukan kehendak Tuhan.
Refleksi:
Dalam hal ibadah pun, kita perlu berlatih.
Mzm.101; 2Raj.18:9-18;1Tim.4:6-16