Lukas 20:45 - 21:4
"Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang...
yang suka duduk di tempat terdepan...
yang mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang." (Luk.20:46-47)
Minggir, ada orang-orang terhormat lewat! Tundukkan kepala, beri salam dengan hormat! Mereka itu para ulama yang disegani. Lihatlah, mereka tampak berwibawa dengan jubah-jubah panjangnya. Mereka begitu fasih melantunkan doa-doanya. Namun, mengapa Yesus justru tidak begitu respek terhadap mereka?
Ternyata kesalehan mereka itu palsu. Ternyata perbuatan mereka sangat tidak terpuji. Ternyata mereka adalah orang-orang yang gila hormat dan tidak berbudi. Yesus membongkar kepalsuan ahli-ahli Taurat itu. Ternyata mereka tidak sebaik penampilannya. Hal itu dinyatakan Yesus dengan terbuka agar para murid tidak meniru kesalehan palsu mereka. Yesus kemudian menunjukkan arti kesalehan yang sebenarnya. Itu dapat dilihat dalam diri seorang janda miskin. Penampilannya tidak meyakinkan. Pasti ia tidak bisa berdoa sefasih para ahli Taurat, apalagi berdebat tenatang Taurat. Namun, ia dijadikan teladan oleh Yesus. Apa yang dilakukannya tampak sangat sederhana. Ia datang ke Bait Allah dan memasukkan persembahan dua peser. Namun, apa yang dilakukannya menunjukkan kesalehannya. Ia tidak pamer kehebatan di depan orang banyak. Ia hanya ingin mempersembahkan seluruh nafkahnya dengan tulus kepada Tuhan.
Kesalehan itu sederhana. Lakukan apa yang dapat dilakukan untuk Tuhan dengan kesungguhan. Berikanlah apa yang bisa diberikan kepada Tuhan. Itu kesalehan sejati.
Refleksi:
Kesalehan itu tidak perlu muluk-muluk.
Mzm.12; Ams.21:10-16; Luk.20:45 - 21:4