KESAKSIAN DAN KOMITMEN PUBLIK
Lukas 10:1-11, 16-20
Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. (Luk. 10:1)
“Mengakui iman dengan mulut berarti juga menghayatinya dalam hati dan mengamalkannya dalam perbuatan: suatu kesaksian dan komitmen publik.” Demikian ditulis Jorge Mario Bergoglio dalam surat gembalanya sewaktu menjabat sebagai Uskup Agung Buenos Aires. Iman harus nyata dalam kehidupan publik.
Dimensi publik dari iman diungkapkan oleh Lukas dalam pengutusan tujuh puluh murid. Angka tujuh puluh ini agaknya merujuk kepada keturunan Nuh yang tercatat di muka bumi (Kej. 10). Itu berarti melalui pengutusan tujuh puluh murid, Yesus ingin menyatakan bahwa kabar baik, berita keselamatan, tertuju bagi seluruh bangsa di bumi. Kabar baik bukan milik pusaka sekelompok orang, tetapi semua bangsa. Kabar baik itu akan mengubah kehidupan publik pendengar sesuai dengan keselamatan yang dirancangkan Allah. Karena itu, para murid diutus pergi ke desa-desa dan kota-kota. Mereka menyatakan iman secara terbuka melalui kata dan perbuatan guna mendatangkan kebaikan publik sesuai dengan Injil. Inilah watak yang inklusif dari Injil.
Watak publik dari Injil ini sering ditutupi oleh orientasi hidup individualistik. Artinya, yang penting orang beriman secara pribadi, kesaksian publik tidak diprioritaskan. Padahal, seperti dikatakan oleh Jorge Bergoglio, iman itu mempunyai dimensi publik. Ada komitmen dan kesaksian publik yang harus kita berikan di dalam satunya kata dan perbuatan. Karena itu, Yesus mengutus kita melanjutkan karya tujuh puluh murid.
REFLEKSI:
Integritas yang kita perlihatkan dalam hidup sehari-hari ikut menentukan kredibilitas Injil di mata publik.
Yes. 66:10-14; Mzm. 66:1-9; Gal. 6:[1-6] 7-16; Luk. 10:1-11, 16-20