Amsal 28:11-28
Orang yang loba, menimbulkan pertengkaran, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, diberi kelimpahan. (Ams. 28:25)
Pada Januari 2017, Polda Metro Jaya berhasil menangkap pembunuh kejam seorang mahasiswi perguruan tinggi di Jakarta. Pembunuh itu ternyata kakak kandung dari mahasiswi itu sendiri. Dari penyelidikan yang dilakukan, polisi akhirnya mengungkapkan bahwa motif kejahatan kejam itu ialah soal perebutan harta warisan orangtua. Nafsu keserakahan telah menguasai sang kakak, sehingga ia pun gelap mata ingin menguasai harta warisan milik adiknya. Ia bertengkar dan membunuh adiknya itu. Kini ia meringkuk di dalam penjara.
Keserakahan adalah salah satu penyebab timbulnya kejahatan biadab. Seperti tertulis dalam Amsal 28:25, loba atau sikap serakah itu menimbulkan pertengkaran. Bahkan, keserakahan menjadi salah satu akar kerusakan alam yang pada gilirannya menyebabkan bencana bagi banyak orang. Demi keuntungan sebanyak-banyaknya, orang membabat hutan seenak-enaknya. Ini jelas dapat menimbulkan malapetaka bagi masa depan kehidupan manusia dan dunia.
Berkali-kali penulis Amsal mengingatkan pembaca tentang sikap yang seharusnya dilakukan terhadap harta kekayaan. Orang butuh hikmat sejati agar ia tidak gelap mata oleh harta kekayaan. Takut akan TUHAN menjadi dasar utama hikmat yang sejati itu. Dengan percaya dan bersandar kepada TUHAN, orang mengalami kelimpahan, yakni damai sejahtera yang tidak seperti diberikan oleh dunia. Keserakahan dapat dipatahkan hanya oleh sikap diri yang mengarahkan hati kepada TUHAN.
REFLEKSI: Hati yang berlimpah oleh kasih karunia Allah mendorong diri untuk selalu bersyukur, bukan bersikap serakah atas harta kekayaan.
Mzm. 146; Ams. 28:11-28; Luk. 9:43b-48