Kejujuran Di Saat Kesusahan
Kejadian 44:1-17
“Apakah yang akan kami katakan kepada tuanku, apakah yang akan kami jawab, dan dengan apakah kami akan membenarkan diri kami?” (Kej. 44:16)
Selain dari kuasa kejahatan, kesusahan karena pencobaan dapat juga berasal dari manusia. Pencobaan dari manusia juga berat kesusahannya, karena tidak main-main.
Kita membaca kisah Yehuda bersaudara yang mengalami kesusahan berkali-kali. Kesusahan yang mereka alami berasal dari Yusuf. Yusuf adalah saudara mereka sendiri yang waktu itu belum mereka kenali. Yusuf juga adalah seorang penguasa negeri digdaya Mesir. Di dalam kesusahan karena butuh makanan, mereka pun tidak dengan mudah memperoleh makanan. Mereka adalah orang-orang jujur. Mereka tidak hendak mencuri atau menipu orang Mesir. Mereka membeli makanan dengan uang sendiri. Namun yang dialami Yehuda bersaudara jauh dari harapan. Yusuf terus-menerus mempermainkan mereka, sehingga mereka semakin susah. Rasa bersalah Yehuda bersaudara berhadapan dengan sakit hati seorang penguasa negeri besar merupakan pengalaman paling berat. Selain diri sendiri, Yehuda juga masih memikirkan ayah mereka yang sudah tua dan keselamatan adik bungsu mereka, Benyamin.
Pengalaman pencobaan serupa seperti Yehuda bersaudara itu sering membuat kita putus asa. Kita cenderung memilih ingin segera menempuh jalan pintas. Kejujuran dan kebenaran menjadi pilihan untuk kita singkirkan. Firman Tuhan menegaskan pendirian Yehuda, “Dengan apakah kami akan membenarkan diri kami?”
DOA:
Tuhan, ajar kami untuk mengenal-Mu dengan lebih sungguh-sungguh. Amin.
Mzm. 37:1-11, 39-40; Kej. 44:1-17; 1Yoh. 2:12-17