Mazmur 1
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. (Mzm.1:3)
"Kapan orang merasa bahagia?" Jawaban umumnya: ketika mendapatkan apa yang diinginkan, ketika menikahi orang yang dicintainya, ketika lulus ujian, dan ketika berhasil dalam pekerjaan atau bisnisnya. Namun, semua itu hanyalah satu sisi dari sebuah kebahagiaan.
Pemazmur menggambarkan orang yang berbahagia itu bagaikan sebatang pohon yang berada di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, yang tidak layu daunnya. Dari gambaran itu, kita bisa belajar, setidaknya ada dua sisi dari sebuah kebahagiaan sejati.
Pertama, pohon itu berada di tepi aliran air. Artinya, ia memperoleh cukup air sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi dengan baik. Kebanyakan orang berpikir, bila kebutuhan hidup material terpenuhi, mereka akan bahagia. Namun, sebenarnya, hal itu bukan jaminan. Jaminan kebahagiaan kita adalah kedekatan dengan Sumber Hidup sebagaimana pohon itu berada di tepi aliran air.
Kedua, pohon itu berbuah pada musimnya dan tidak layu daunnya. Itu berarti, ia melakukan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya dengan baik. Segala berkat yang diterima dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Ia bukan hanya hidup dan menikmati berkat, tetapi memenuhi panggilannya. Itulah yang sering diabaikan orang. Kebahagiaan sejati adalah hidup dalam kasih Tuhan dan --jangan diabaikan-- berbuah!
Refleksi:
Kebahagiaan belum sempurna bila hanya dinikmati sendirian.
Mzm.1; Kej.39:1-23; Flp.2:25-30