Kisah Para Rasul 10:44-48
Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga... (Kis.10:45)
Konon Nicolas Chauvin adalah tentara yang setia kepada Napoleon Bonaparte. Sekalipun Napoleon kalah dan dibuang, Chauvin tetap menagungkannya. Apa pun yang terjadi, Napoleon tetap di atas segalanya. Karena itu, nama Chauvin di kemudian hari dijadikan istilah "chauvinisme" --sebutan untuk orang yang begitu fanatik dan berlebihan dalam mencintai bangsanya. Mencintai bangsa sendiri adalah hal terpuji, tetapi menjadi keliru ketika hal itu dilakukan berlebihan dan kemudian merendahkan bangsa lain.
Umat Yahudi telah lama hidup dalam mentalitas superior. Mereka sangat membanggakan diri sebagai "bangsa pilihan Allah". Mereka yakin bahwa hanya kepada merekalah Allah merancangkan keselamatan. Bagi mereka, Allah tidak mungkin mau menyelamatkan bangsa lain.
Pola pikir seperti itu bahkan masih terus dipelihara ketika mereka sudah mengenal Kristus atau menjadi Kristen. Petrus harus diyakinkan dulu dengan 3 kali penglihatan yang menyuruhnya memakan hidangan yang menurut orang Yahudi haram. Orang Kristen-Yahudi yang menyertai Petrus juga tercengang karena Roh Kudus juga dicurahkan kepada orang-orang non-Yahudi. Sesudah peristiwa itu pun, Petrus harus mempertanggungjawabkan baptisan Kornelius kepada murid-murid lain di Yerusalem. Pelajarannya bagi kita: kasih Allah terbuka untuk semua bangsa; mengapa kita sibuk membuat pagar untuk membatasinya?
Refleksi:
Kasih Allah tidak dapat dibatasi.
Mzm.89:6-38; Kej.35:1-15; Kis.10:44-48