Ibrani 11:1-3, 13-19
Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah... (Ibr. 11:3)
Iman itu sebuah keajaiban. Coba bayangkan betapa luar biasanya iman: "Karena iman, kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah". Iman ternyata tidak menghalangi pengertian, tetapi justru sebaliknya. Berkat iman, orang bisa mencari pengertian tentang mengapa alam semesta ini diciptakan. Artinya, iman menjadi dasar penting bagi penemuan-penemuan pengertian atau pengetahuan baru. Dengan kata lain, iman sebenarnya tidak bertentangan dengan akal budi. Iman justru memperlengkapi akal budi. Ketika akal budi tidak atau belum bisa menjangkau, iman bisa menjadi pendukung terhadap lahirnya kemungkinan-kemungkinan baru.
Iman dan akal budi ibarat dua sisi dari keping mata uang yang sama. Keduanya saling mengandaikan dan saling membutuhkan. Orang yang beriman kepada Allah tidak perlu risau terhadap munculnya teori-teori sains, misalnya Big Bang Theory, asalkan semua teori itu bisa dijelaskan berdasarkan nalar. Prinsipnya, iman itu selalu mencari pengetahuan. Beriman itu selalu terbuka dengan munculnya pengetahuan-pengetahuan baru.
Abraham - Bapa orang beriman - ketika hendak mempersembahkan Ishak, ia pun terbuka pada kemungkinan baru. Ketika bukan Ishak yang akan dikorbankan melainkan seekor domba, ia pun menerima hal itu. Itulah sisi keajaiban beriman yang layak disyukuri.
DOA:
Tuhan, kami ingin mengasihi Engkau dan sesama kami dengan iman dan akal budi kami. Amin.
Mzm. 105:1-11, 37-45; Kej. 22:1-19; Ibr. 11:1-3, 13-19