JIKALAU TUHAN MENJADI RAJA
Zakaria 14:10-21
Maka segala kuali di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi kudus bagi TUHAN semesta alam …. (Za. 14:21)
“Tuhan adalah Raja,” pernyataan iman atau sebuah slogan? Kerap terjadi, ungkapan ini hanya menjadi slogan, pemanis bibir belaka. Sebab, orang yang mengungkapkannya tidak memperlihatkan bukti bahwa benar Tuhan menjadi Raja dalam kehidupannya. Lantas, apa tanda yang menyertainya?
Zakaria memperlihatkan tanda itu; tanda bahwa Tuhan adalah Raja. Tatkala Ia bertakhta sebagai Raja, katanya, “Maka segala kuali di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi kudus bagi TUHAN semesta alam.” Tak ada lagi diskriminasi. Ternyata, dahulu para pedagang dan para iman berkomplot menentukan bejana seperti apa yang semestinya dipakai untuk mempersembahkan kurban bagi Tuhan. Mereka memperdagangkan ibadat, dan bertindak manipulatif atas nama Tuhan untuk meraih keuntungan. Tatkala Tuhan menjadi Raja, tidak ada lagi diskriminasi, yang ada adalah keadilan. Ia mengganti manipulasi dengan kejujuran. Ia memberi damai sejahtera kepada semua bangsa yang datang beribadat kepada-Nya.
Mari kita cek, apakah ungkapan Tuhan adalah Raja merupakan pernyataan iman atau hanya sebuah slogan? Jikalau Tuhan menjadi Raja dalam kehidupan kita, maka kita tentu akan terus berupaya untuk mewujudkan keadilan, bukan? Berjuang hidup dengan kejujuran; giat mengupayakan hadirnya damai sejahtera, bukan hanya untuk diri dan keluarga sendiri, tetapi untuk orang lain juga. Sebab, kasih-Nya diberikan kepada semua orang.
REFLEKSI:
Kesaksian melalui kata dan perbuatan sehari-hari menyatakan kita ini milik siapa: Raja damai atau penguasa di udara.
Mzm. 66:1-9; Za. 14:10-21; Luk. 9:1-6