IMAN YANG BERAKAR
Kolose 1:27-2:7
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kol. 2:7)
Di negara yang majemuk seperti Indonesia, pindah agama sering terjadi, dan biasanya disertai dengan berbagai komentar dan bumbu. Satu pertanyaan yang sering mencuat adalah mengapa orang mau berpindah agama? Bukankah agama itu urusan seseorang dengan Tuhan, lalu mengapa ia meninggalkan janji pada Tuhan?
Kepada jemaat di Kolose, penulis surat ini menasihati supaya mereka berakar dan dibangun di atas Dia, Yesus Kristus. Yesus ibarat tanah dan orang percaya seumpama tanaman. Supaya tegak berdiri maka mesti berakar secara dalam, dan agar kelihatan kukuhnya maka harus tumbuh menjulang. Dari tanah itulah tanaman mendapatkan nutrisi bagi pertumbuhannya. Begitu pun orang percaya, ia harus hidup dalam Yesus, mengakarkan diri pada-Nya, memperoleh asupan dari-Nya melalui pengajaran, sehingga bisa bertumbuh dan berbuah lebat. Salah satu tandanya adalah mengucap syukur. Rasa syukur itu tampak dalam sikap dan perbuatan, kendati ada kesulitan tetapi tetap setia dan bersukacita.
Jadi, mengapa orang bisa pindah agama? Bisa jadi salah satunya karena ia tidak berakar dan bertumbuh di dalam imannya. Beragama hanya sebuah formalitas. Imanlah yang mesti kita rawat dengan penuh kasih dan kesetiaan, sehingga iman itu berakar kuat dan dalam pada Yesus, Dasar hidup kita. Di atas Dia yang adalah Dasar itulah kita bertumbuh menjadi pribadi yang kuat, berdedikasi dan selalu bersyukur dalam segala sesuatu.
REFLEKSI:
Iman membutuhkan dasar untuk berdiri, kekuatan harapan untuk terus bertahan, dan tindakan kasih untuk merawat dan menumbuhkannya.
Mzm. 119:97-104; Kel. 18:1-12; Kol. 1:27—2:7