IMAN PALSU
Ayub 24:1-8
Di ladang mereka mengambil makanan hewan, dan kebun anggur, milik orang fasik, dipetiki buahnya yang ketinggalan. (Ayb. 24:6)
“Orangtua yang makan nangka, anak yang kena getahnya.” Banyak dari kita mungkin tidak setuju dengan peribahasa ini, sebab sangat tidak adil. Seorang yang berbuat, namun orang lain yang menanggung akibat. Pernahkah kita memikirkan bahwa problem ketidakadilan ini juga kita lakukan pada Tuhan?
Lihat misalnya pengalaman Ayub. Dalam teks ini, gugatan diberikan kepada Allah yang seakan-akan acuh tak acuh terhadap kejahatan. Satu di antaranya adalah ketidakpedulian kepada orang-orang kecil. Dalam tradisi Israel kuno, pada waktu panen, orang biasanya meninggalkan beberapa ikat gandum di ladang, supaya dapat dipungut oleh orang miskin, janda, yatim piatu dan orang asing. Namun, dalam teks yang kita baca, tidak ada yang disisakan. Artinya, hak orang-orang kecil itu pun dimakan. Anehnya, bukan sikap orang yang rakus yang dipertanyakan, justru keadilan Tuhan yang dipersoalkan. Ini ibarat pepatah di atas, siapa yang makan nangka, siapa pula yang kena getahnya. Manusia yang serakah, namun Allah yang menjadi tersangka.
Ibarat lagu alamat palsu, gugatan tersebut sejatinya salah tempat. Manusialah yang harus berani membuang keserakahan, bukan mempertanyakan keadilan Tuhan. Dari sisi teologis, justru Tuhan begitu peduli dengan orang-orang kecil, seperti orang miskin, janda, dan orang asing. Kepedulian ini yang semestinya dijadikan sebagai gaya hidup orang yang mengaku diri bertuhan. Tanpa kepedulian, jangan-jangan imannya pun palsu.
REFLEKSI:
Iman tanpa kepedulian ibarat uang kertas seratus ribuan tanpa wajah Soekarno. Angkanya besar, tetapi tak bernilai alias palsu!
Mzm. 25:11-20; Ayb. 24:1-8; Yak. 2:1-7