1 Tesalonika 4:1-12
Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. (1Tes.4:7)
Josemaria Escriva, pendiri Opus Dei, mengatakan, "Anda harus menyadari bahwa sekarang Tuhan memanggil Anda untuk melayani-Nya melalui aktivitas kita yang biasa dan sekuler." Tuhan memanggil kita untuk menguduskan pekerjaan kita sehari-hari. Hal itu hanya bisa dilakukan jika kita hidup kudus.
Itu juga yang dikatakan Paulus kepada jemaat Tesalonika: "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus" (ay.7). Arti "kudus" di sini adalah khusus. Kita adalah orang yang dikhususkan oleh Allah dan untuk Allah. Karena itu, hidup kudus merupakan keniscayaan. Jika tidak hidup kudus, malah aneh.
Itu bukanlah tuntutan yang mengada-ada. Allah ingin bersekutu dengan umat-Nya. Jika umat-Nya hidup cemar, maka persekutuan itu akan putus dengan sendirinya. Sekali lagi, hidup kudus bukanlah hal yang luar biasa. Hidup kudus merupakan hal yang biasa-biasa saja karena kita telah ditebus Allah dan menjadi milik-Nya. Dengan kata lain, jika Allah kudus, masa umatnya tidak? Kalau umat tidak hidup kudus, layakkah mereka disebut umat Allah? Jika kita tidak hidup kudus, maka kita umat siapa? Yang juga penting: jika umat tidak menjaga kekudusannya, apakah mereka dapat bersekutu dengan Allah yang kudus? Bukankah persekutuan dengan Allah merupakan modal utama dan sumber kegembiraan kita dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini?
Doa:
Tuhan, mampukan kami untuk menguduskan pekerjaan kami sehari-hari. Amin.
Mzm.21; Yes.24:1-16a; 1Tes.4:1-12