(Luk.6:5)
">
Lukas 6:1-5
"Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." (Luk.6:5)
Sabat adalah hari yang dikuduskan dalam hukum Taurat. Tidak satupun orang Yahudi yang boleh melanggarnya. Untuk menjaga supaya perintah itu tidak dilanggar, dibuatlah petunjuk pelaksanaanya. Petunjuk pelaksanaan itu dibuat sangat terperinci dan mencakup sangat banyak hal yang tidak boleh dilakukan. Semua itu untuk memenuhi tuntutan "tidak melakukan pekerjaan pada hari Sabat." Akhirnya orang Yahudi menjadi sangat terpaku pada petunjuk pelaksanaan itu dan sebagian orang menggunakannya untuk menghakimi orang lain. Hari Sabat pun berlalu sebagai hari yang sangat berat.
Yesus membiarkan murid-murid-Nya memetik gandum dan menggisarnya dengan tangan. Menurut definisi orang Farisi yang ketat, memetik dan menggisar gandum masuk kategori "bekerja." Namun, Yesus justru membandingkannya dengan kasus Daud dan pengikutnya yang memakan roti yang seharusnya hanya boleh dimakan para imam. Itu berarti Yesus mengingatkan bahwa makna hukum Sabat bukan terletak pada bunyi larangannya secara harfiah, melainkan pada maksud atau tujuannya.
Perintah untuk tidak kerja dibuat supaya setiap orang, binatang, dan alam beristirahat. Manusia harus diingatkan untuk memberikan hak istirahat kepada sesama manusia dan ciptaan yang lain. Itulah pemberian Allah. Bersama Yesus, pemberian hak itu tidak hanya terbatas pada satu hari saja, tetapi harus dilakukan setiap saat.
Doa:
Tuhan, ajarlah kami untuk menikmati hari-hari pemberian-Mu dan tidak menghalangi orang lain untuk menikmatinya juga. Amin
Mzm.103:1-8; Neh.13:15-22; Luk.6:1-5