(Luk.23:34)
">
Lukas 23:33-43
Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk.23:34)
Sastrawan Rusia, Tolstoy, pernah menulis cerita menarik berjudul "Tuhan Melihat Kebenaran, Tapi Dia Menunggu." Cerita itu berkisah tentang seorang pedagang yang harus masuk penjara dan menjalani kerja paksa di Siberia untuk kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Ia harus berpisah dengan istri dan anaknya, dan mengalami penderitaan yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Singkat cerita, di penjara itu, ia kemudian bertemu dengan penjahat yang sebenarnya yang telah menghancurkan hidupnya. Di tempat tersebut, ia mengalami pergumulan hebat untuk membalas atau mengampuni. Pada akhirnya, ia membuktikan bahwa penderitaan tidak membuat hatinya menjadi keras, tetapi menjadi lembut.
Kelembutan hati juga ditampakkan Tuhan Yesus di kayu salib, di puncak penderitaan-Nya. Di tengah kesakitan dan kesengsaraan yang dihadapi-Nya, Tuhan Yesus memilih secara sadar untuk mengampuni para pelaku kejahatan tersebut. Ia bahkan berdoa kepada Bapa di surga: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Kehidupan yang keras yang dihadapi Yesus tidak serta-merta membuat hati-Nya menjadi keras. Teladan nyata ditunjukkan di atas salib bahwa hati yang lembut tidak luntur oleh penderitaan, kesengsaraan, bahkan pengkhianatan.
Mampukah di tengah pengalaman hidup yang terkadang sulit dan berat kita menjaga hati tetap lembut sebagaimana hati Tuhan?
Refleksi:
Pengampunan datang dari hati yang tetap lembut sekalipun sudah dilukai.
Yer.23:1-6; Mzm.46; Kol.1:11-20; Luk.23:33-43