Manusia membutuhkan peraturan atau hukum yang mengatur kehidupan bersama agar menjadi baik. Coba bayangkan apa yang terjadi bila di jalan raya tidak ada aturan lalu lintas? Dalam kehidupan beragama, peraturan juga dibutuhkan. Masalahnya, bagaimana peraturan-peraturan tersebut diberlakukan? Apakah membebani ataukah membuat lega?
Bagi orang Farisi, peraturan dalam hukum Taurat mutlak harus ditaati, termasuk peraturan tentang Sabat. Di hari Sabat, orang harus istirahat tidak boleh bekerja. Memetik gandum dan menolong orang sakit dianggap bekerja karena itu tidak diperbolehkan (ay. 2:23-24; 3:2). Namun, bagaimana sikap Tuhan Yesus? Tuhan Yesus memaknai hari Sabat tidak secara sempit atau legalistis. Bagi Tuhan Yesus, hari Sabat diadakan supaya kehidupan manusia menjadi lebih baik. Ada keseimbangan antara ibadah, kerja, dan istirahat (Kel. 20:8-11) sehingga hari Sabat mestinya membawa berkat dan sukacita, bukan celaka. Karena itu, Tuhan Yesus tidak ragu menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat.
Bagi orang Kristen, hari Minggu adalah hari “Sabat.” Setelah Tuhan Yesus bangkit, para murid dan umat Kristen perdana merayakan kebangkitan Tuhan Yesus setiap hari Minggu sehingga hari Minggu adalah hari ibadah orang Kristen. Karena itu, marilah kita isi hari Minggu dengan sesuatu yang membawa berkat dan sukacita, dengan hal-hal berguna, misalnya: beribadah, melayani, dan berbuat kasih.
DOA:
Tuhan, berikanlah hikmat kepada kami agar hari Minggu menjadi hari yang penuh sukacita dan penuh tindakan kasih. Amin.
Ul. 5:12-15; Mzm. 81:2-11; 2Kor. 4:5-12; Mrk. 2:23-3:6