Efesus 4:17 - 5:2
...janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Ef. 4:26)
Setiap kali membersihkan meja di rumah, istri saya selalu mengeluh, "Bagaimana meja ini bisa kotor secepat ini? Padahal, baru kemarin dibersihkan!" Pembersihan seharusnya menjadi gaya hidup karena pembersihan harus terus dilakukan sepanjang kita masih diberi kehidupan. Kita mungkin ingin membersihkan rumah kita satu kali saja dan berharap selanjutnya tetap bersih. Namun, rupanya kotoran tidak mudah menyerah. Butir demi butir debu membuat perabot rumah menjadi kotor kembali.
Dosa bagaikan kotoran. Kita ingin memusnahkannya dengan sekali berdoa dan mengakui dosa dan bertobat. Namun, dosa tidak menyerah semudah itu. Pikiran buruk kembali merasuki kita dan dapat mendorong kelakuan buruk lagi. Rasul Paulus menasihati jemaat Efesus untuk membuang kemarahan, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor. Rasul Paulus menghendaki supaya hidup kita tidak dikuasai kemarahan (Ef. 4:26). Bila tidak dikendalikan, kemarahan akan menjadi perbuatan dosa dan menghancurkan kita.
Pengakuan dosa dan pertobatan masih diperlukan setiap hari. Menyingkirkan hal buruk seperti kemarahan, kegeraman, dan kejahatan adalah gaya hidup yang harus terus diperjuangkan. Pengendalian diri menjadi hal penting dan harus menjadi gaya hidup orang beriman. Jika hal itu bisa terlaksana, damai sejahterahlah hidup kita semua.
Refleksi:
Pengendalian diri terhadap kemarahan harus menjadi gaya hidup setiap orang percaya.
Mzm. 92; Ul. 28:1-14; Ef. 4:17 - 5:2