DIBERKATI DAN MEMBERKATI
Lukas 12:29-32
“Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” (Luk. 12:31)
Jika kita berada di kota yang asing dan kebetulan saat itu malam hari, maka kita tentu akan mengalami kesulitan untuk menentukan arah. Kita tidak tahu mana utara dan mana selatan, sebab saat itu tidak ada matahari yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan arah.
Demikian pula halnya dengan hidup kita sebagai orang Kristen. Jika kita tidak mempunyai patokan yang menjadi penentu arah, maka hidup kita bisa tersesat. Itu sebabnya Yesus mengingatkan supaya kita berorientasi pada Kerajaan Allah. Ini menjadi “matahari” yang memampukan kita, bukan saja untuk mengetahui ke mana arah hidup kita saat ini, tetapi juga untuk membedakan mana jalan yang berujung pada maut dan mana jalan yang berujung pada keselamatan.
Yang menarik, jika kita membaca keseluruhan pasal 12, maka kita akan menemukan bahwa perilaku yang dianggap Yesus sesuai dengan patokan Kerajaan Allah adalah perilaku di mana kita tidak terlalu mengkhawatirkan hal-hal duniawi seperti sandang, pangan dan papan. Sebaliknya, kita diminta untuk lebih mengarahkan hidup kita pada bagaimana kita bisa berbagi berkat dengan orang-orang lain.
Rumusan ini memang terdengar aneh. Bagaimana bisa kita diminta untuk mengatasi rasa khawatir akan hidup kita dengan jalan membagikan milik kita pada orang-orang lain? Tetapi itulah rahasia Kerajaan Allah. Kita diberkati oleh Allah justru ketika kita memberkati orang-orang lain.
REFLEKSI:
Kita patut menjadi berkat bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, karena dengan berlaku demikian kita diberkati Tuhan.
Mzm. 23; Yeh. 28:25-26; Luk. 12:29-32