Damai Yerusalem, Damai Dunia
Lukas 19:41-44
“… betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” (Luk. 19:42)
Yerusalem, bagi sebagian orang hanya sebuah kota lama, kota tujuan wisata dan ziarah. Dahulu, Yerusalem adalah kota yang kurang menarik, tandus, iklim tak nyaman dan persediaan air terbatas. Daud (abad ke-10 SM) memandangnya sebagai kota ideal dan menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahannya dan membangun istana. Salomo membangun Bait Allah juga. Namun, mengapa Yesus menangisi Yerusalem?
Nasib kota simbol kedamaian itu patut ditangisi. Perjalanan Yerusalem pasang-surut. Satu pihak, Yerusalem pernah menjadi kota konsili, menyimpan banyak situs bersejarah, dan berdirinya banyak gereja. Lain pihak, ia juga pernah mengalami pemberontakan, penyerbuan, perebutan, dan bahkan pembantaian umat manusia. Gejolak kemanusiaan itu telah berlangsung berabad-abad dan terus berlangsung hingga kini. Ia adalah kota suci bagi tiga agama besar: Yahudi, Kristen dan Islam. Namun banyak negara memiliki kepentingan atas Yerusalem, bukan hanya Palestina dan Israel. Pantaslah, kota suci Yerusalem ditangisi Yesus yang menggambarkan kehancuran umat manusia.
Dewasa ini, di dalam setiap ibadah Minggu Palem dan Sengsara, hari Minggu terakhir sebelum Paskah, dinaikkan doa syafaat oleh beberapa gereja atas kota Yerusalem. Pernahkah atau tergerakkah kita sebagai gereja mendoakan Yerusalem? Keprihatinan Yerusalem bukan keprihatinan Israel, melainkan umat manusia dan perdamaian dunia.
DOA:
Ya Tuhan, kiranya Engkau memancarkan damai sejahtera atas Yerusalem. Amin.
Mzm. 56; Yer. 1:11-19; Luk. 19:41-44