Cermin Kasih Bapa
Lukas 2:39-52
“Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49)
Apa agama Yesus? Yahudi! Yesus adalah orang Yahudi. Ia lahir dan dibesarkan dalam agama dan budaya Yahudi. Ini tidak dapat dibantah. Buktinya, Ia disunat pada umur delapan hari. Menurut Taurat, setiap laki-laki dewasa yang tinggal dalam radius lima belas mil dari Yerusalem wajib menghadiri upacara Paskah. Seorang anak laki-laki Yahudi dianggap dewasa apabila ia telah berusia dua belas tahun, kemudian disebut anak-anak Taurat. Pada usia dua belas tahun inilah Yesus untuk pertama kali bersama orang tuanya menghadiri upacara Paskah di Bait Suci, Yerusalem.
Dapat dibayangkan antusiasme yang memancar dalam diri Yesus ketika Ia melihat keindahan Yerusalem dan kemegahan Bait Suci. Apa yang terjadi ketika mereka kembali ke Nazaret? Yusuf dan Maria kehilangan Yesus! Apakah Yesus sibuk melihat-lihat keindahan kota Allah itu? Tidak! Ia ditemukan sedang terlibat pembicaraan bersama para ulama. Hikmat-Nya luar biasa.
Asyiknya diskusi terusik, “Bapa-Mu dan aku,” kata Maria, “dengan cemas mencari Engkau.” Yesus menjawab, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” Sepintas jawaban ini kasar. Namun, di sini Yesus mengambil sebutan bapa dari Yusuf dan mengenakannya kepada Allah. Yusuf telah berperan sebagai bapak yang baik dalam membesarkan Yesus. Sudahkah setiap ayah atau ibu menjadi cerminan dari kasih Allah kepada anak-anaknya?
REFLEKSI:
Merawat dan mendidik anak adalah kesempatan mengenalkan kasih Bapa kepada mereka.
Mzm. 19; Neh. 5:1-13; Luk. 2:39-52