(Luk.20:3)
">
Lukas 20:1-8
Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan kepada kamu." (Luk.20:3)
"Malu bertanya sesat di jalan". Pepatah itu mengajarkan kepada kita bahwa "bertanya" akan membantu atau menolong kita supaya tidak tersesat atau salah jalan. "Bertanya" dapat membimbing dan menyelamatkan kita. Namun, adalah sebuah ironi ketika seseorang bertanya padahal ia sudah tahu jawabannya.
Orang-orang seperti itulah yang menjumpai Tuhan Yesus ketika Ia mengajar di Bait Allah (20:1-8). Mereka adalah imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua (ay.1). Mereka adalah orang terpelajar dengan pengetahuan agama yang dalam dan dari golongan berkedudukan tinggi. Mereka datang kepada Yesus untuk mengajukan pertanyaan. Tentulah kita dapat menduga bahwa mereka bukannya tidak tahu dan tidak mengenal siapa Yesus. Karena itu, pertanyaan yang sebenarnya berfungsi untuk membuat seseorang yang tidak tahu menjadi tahu berubah fungsi menjadi sarana untuk menjebak. Menghadapi hal tersebut, Yesus tidak kalah cerdik. Yesus menjawab dengan balas bertanya. Dengan strategi seperti itu, Yesus berhasil mematahkan jebakan orang-orang itu.
Yesus mengajarkan pentingnya bertanya dalam hidup ini, tetapi Ia juga mengingatkan kita supaya kita tidak menyalahgunakan bertanya untuk menjebak atau menjatuhkan seseorang. Sebuah pertanyaan muncul harus dilandasi dari keinginan untuk mendapat kebenaran, bukan malah menjatuhkan kita dari Sang Kebenaran.
Refleksi:
Ketika kita bertanya kepada Allah, apakah hal itu berangkat dari kerinduan kita untuk memperoleh kebenaran?
Mzm.17:1-9; Kel.3:13-20; Luk.20:1-8