Mazmur 131
TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. (Mzm. 131:1)
Banyak orang menjadi lupa diri ketika diberi kelebihan oleh Allah. Kesombongan membuat orang lupa bahwa kekuatan manusia sesungguhnya berasal dari Allah. Demikianlah yang terjadi pada umat Israel. Sebagai umat pilihan, bangsa Israel acapkali lupa diri. Bahkan, karena merasa sebagai umat pilihan, mereka menganggap rendah bangsa lain. Kesombongan telah menutupi akal budi mereka yang seharusnya memahami bahwa kelebihannya adalah anugerah Allah semata-mata.
Dalam nyanyian ziarahnya, Daud mengingatkan betapa setiap orang harus menyadari kelemahannya. Kesombongan tidak akan membawanya pada relasi yang baik dengan Allah maupun dengan sesama. Tinggi hati cenderung memperburuk relasi orang dengan Allah maupun dengan sesamanya. Sebaliknya, orang yang mau merendahkan hati dan belajar untuk menenangkan jiwanya kepada Allah akan memperoleh kedamaian. Kesadaran Pemazmur akan keberadaan diri yang lemah membawanya memahami betapa berkuasa-Nya Allah.
Pemazmur memahami betul bahwa dengan berharap dan berserah kepada Tuhan, kekuatan dan kedamaian akan diterimanya. Relasi dengan Allah dan sesama akan menjadi jauh lebih baik. Perjalanan hidupnya pun akan dirasakan damai dan tenteram. Kesombongan atau tinggi hati haruslah disingkirkan dari dalam diri kita.
Refleksi:
Kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Allah akan membawa ketenangan dan kedamaian bagi jiwa.
Mzm. 131; Yer. 28:10-17; Rm. 3:1-8