19 March 2019 / Renungan Harian

BELAJAR DARI KESALAHAN


media

Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (1Kor. 10:12)

Kritik dan evaluasi acap kali tidak mudah diterima oleh sebagian besar orang. Biasanya orang dengan segera membentengi diri dengan sejumlah alasan untuk membenarkan perilaku yang nyata-nyatanya salah dan jahat. Padahal, kritik dan evaluasi menjadi salah satu bentuk dari perhatian dan kasih yang nyata. Hal itu memberi manfaat besar supaya di masa mendatang kekeliruan, kesalahan, kealpaan, pengabaian, bahkan kejahatan yang tertuang dan tertangkap dalam kritik maupun evaluasi itu tidak lagi dilakukan.

Paulus mencontohkan perjalanan umat Israel di gurun yang tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pada satu masa mereka menyerah pada godaan, sehingga meninggalkan jalan yang benar. Dimulai dari keinginan yang jahat, mereka tergelincir jatuh pada perbuatan-perbuatan jahat. Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa pencobaan yang datang harus ditanggung bukan hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri saja, tetapi dengan memohonkan penyertaan Allah. Dalam penyertaan Allah, hasil akhirnya adalah jalan keluar dan bukan kejatuhan karena masuk jerat perangkap dosa.

Kesalahan dan perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang-orang yang ‘jatuh’, tidak pernah boleh dijadikan pembenaran bagi kita untuk melakukan kejahatan serupa. Allah memberikan kepada kita akal budi dan hati nurani untuk belajar dari kesalahan orang lain maupun kesalahan kita sendiri, supaya kesalahan sejenis atau kesalahan yang lebih besar tidak terjadi lagi.

REFLEKSI: Rendah hati dan terbuka kepada kritik dan evaluasi lebih bermanfaat ketimbang jumawa dan keras kepala.

Mzm. 105:1-15 [16-41] 42; Bil. 14:10b-24; 1Kor. 10:1-13

Latest ARTICLE