26 January 2017 / Renungan Harian

Balas Dendam Bukan Cara yang Baik


media

Balas Dendam Bukan Cara yang Baik

1 Petrus 3:8-12

...dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil... (1Ptr.3:9)

Sejarah mencatat banyak darah tertumpah sia-sia karena balas dendam, misalnya, antara kaum Protestan dan Katolik di Irlandia Utara, orang Yahudi dan Arab di Palestina, bahkan di beberapa daerah di tanah air kita. Tak terhitung lagi korban jiwa, harta benda, dan masa depan. Katanya, demi melindungi dan menjaga martabat. Apakah kesejahteraan dapat dinikmati? Ternyata tidak! Jadi, balas dendam terbukti bukan cara yang baik dalam menyelesaikan masalah.

"Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil" (1Ptr.3:9). Mungkin kita akan berkata, "Mudah bagi kita mengasihi orang yang mencintai kita, tetapi mengasihi mereka yang menyakiti kita? Mudah bagi kita mendoakan orang yang kita kasihi, tetapi bagaimana jika mereka telah melukai hati kita?" Ya, benar, tindakan itu sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. Mahatma Gandhi dengan Ahimsanya telah berhasil mengusir penjajah tanpa kekerasan. Nelson Mandela dapat membuktikan bahwa mengasihi dan merangkul orang yang menganiayanya adalah jalan rekonsiliasi sejati.

Jika kita dapat melakukannya, maka kita sama seperti Bapa di Surga yang telah memanggil kita. Allah Bapa mengasihi kita tanpa syarat. Bahkan, ketika kita masih menjadi seteru-Nya, Ia telah mengasihi kita.

 


Refleksi:

Jika prinsip "mata ganti mata" diterapkan, maka seluruh dunia akan menjadi buta.

 

Mzm.15; Ul.16:18-20; 1Ptr.3:8-12

Latest ARTICLE