">


04 September 2019 / Renungan Harian

ALLAH YANG RENDAH HATI


media

Yesaya 57:14-21

"Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati ...." (Yes. 57:15)

Willi Hoffsümmer menyampaikan sebuah kisah tentang seorang tuan dari Tiongkok. Tuan itu mengadakan pesta besar dan mengundang banyak orang penting. Pada hari itu, hujan deras. Jalanan tanah di depan rumah sang tuan tergenang air dan berlumpur. Tiba-tiba, seorang tamu jatuh terpeleset ke lumpur. Tamu itu jadi sangat kotor. Tamu-tamu yang lain melihat dan menertawakannya. Akibatnya tamu yang jatuh itu tidak berani masuk ke rumah pesta. Sang tuan melihat itu. Ia menghampiri dan membujuknya agar tetap masuk ke pesta. Tamu itu merasa tidak pantas untuk masuk. Sang tuan pun lantas menjatuhkan dirinya ke lumpur agar tamunya itu tidak merasa rendah diri dan mau masuk ke rumahnya.

Seperti sang tuan yang rendah hati dalam cerita itu, demikianlah Allah yang dinyatakan oleh Yesaya. Ketika Yesaya menyampaikan firman TUHAN, beberapa umat Israel tidak dapat pulang ke tanah air setelah peristiwa pembuangan. Mereka ini merasa hilang harapan, remuk, dan tak berdaya. Karena cinta kasih-Nya begitu besar, yang Mahatinggi dan yang Mahamulia tidak selamanya berdiam diri. Allah hadir di tengah umat-Nya dan mau memberdayakan mereka. Allah bersikap rendah hati. Dia mengangkat umat-Nya yang jatuh ke dalam lumpur kesusahan.

Jika kita dirundung kesusahan, merasa remuk, dan tidak berdaya maka ketahuilah bahwa Allah tidak berdiam diri. Dia itu rendah hati, mau bersama-sama kita, dan memberdayakan kita.

REFLEKSI: Allah yang rendah hati adalah Allah yang Mahatinggi dan Mahamulia, dan sekaligus Allah yang Mahadekat dan Mahasetia.

Mzm. 119:65-72; Yes. 57:14-21; Luk. 14:15-24

Latest ARTICLE