24 September 2019 / Renungan Harian

MENJADIKAN DIRI HAMBA


media

1 Korintus 9:19-23

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (1Kor. 9:19)

Friedrich Nietzsche (1844-1900) pasti akan tertawa jika ia dapat membaca judul tulisan ini. Alasannya, judul ini tampak membenarkan pandangannya tentang ajaran Kristen yang dianggap telah berupaya memadamkan kehendak manusia untuk berkuasa. Menurut Nietzsche, manusia mestinya bebas terhadap sesamanya, termasuk dalam kehendaknya untuk berkuasa, bukan malah menjadikan dirinya hamba dari semua orang lain.

Berbeda dari Nietzsche, Rasul Paulus menyatakan bahwa ia menjadikan dirinya hamba dari semua orang. Pernyataan ini tidak menunjukkan bahwa Paulus tidak bebas terhadap semua orang. Ia justru bebas. Kalau ia menjadikan dirinya hamba dari semua orang maka ia lakukan itu bukan karena ajaran agama, tetapi karena anugerah kasih Allah: Injil Yesus Kristus. Anugerah Injil menggerakkan dirinya untuk hidup sebagai berkat bagi banyak orang lain. Sungguh, Paulus tidak sedang mengerdilkan potensi hebat dirinya. Sebaliknya, ia mau memakai potensi hebat dirinya untuk memenangkan sebanyak mungkin orang demi Injil Tuhan Yesus Kristus.

Dari pernyataan Rasul Paulus itu, kita yang sudah mengenal dan mengalami Injil Kristus sebagai anugerah kasih Allah, seharusnya memakai potensi hebat diri kita sebagai berkat bagi sebanyak mungkin orang. Seperti Rasul Paulus, kita mau menjadikan diri kita hamba dari orang lain demi Injil Kristus. Kita tidak mementingkan diri sendiri, tetapi dengan rendah hati menjadi sahabat dan berkat bagi orang lain untuk kemuliaan Tuhan.

REFLEKSI: Menjadikan diri hamba dari orang lain tidak berarti mengerdilkan potensi hebat diri sendiri, tetapi justru memakai potensi itu untuk menolong orang lain.

Mzm. 12; Ams. 17:1-5; 1Kor. 9:19-23

Latest ARTICLE