Mazmur 27:7-14
Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. (Mzm.27:10)
Cinta kasih orang tua tidak pernah lekang dimakan waktu. Orang tua akan melakukan apa saja untuk membahagiakan buah hati mereka. Saya baru mengerti sepenuhnya cinta kasih orang tua ketika saya dikaruniai anak. Waktu anak saya mengalami kesulitan, ia menangis, hati saya juga ikut menangis. Ketika ia sakit, dalam hati saya berdoa, "Tuhan, seandainya boleh, tukar saja biar saya yang sakit".
Namun, bisakah seseorang kehilangan cinta kasih ayah dan ibunya? Adakah orang tua yang tega menelantarkan buah hatinya sendiri? Ada! Kita sering disuguhi berita-berita tentang kekerasan dalam rumah tangga yang sasarannya adalah anak-anak. Angka kekerasan terhadap anak terus meningkat. Tidak hanya itu, banyak bayi yang baru lahir dibuang oleh ibu kandungnya sendiri!
Kasih sayang ayah dan ibu lazimnya adalah murni, indah, agung, dan mengagumkan. Namun, andaikan itu tidak terjadi, masih ada yang mencintai kita. Daud mengatakan, "Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku" (Mzm.27:10). Jadi, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk berpikir bahwa dirinya adalah orang yang paling malang, sebatang kara, dan tidak ada yang peduli. Tuhan peduli! Dia memperhatikan bahkan menyambut kita dalam dekapan-Nya sehingga kita akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup --tempat di mana cinta kasih yang sejati dipraktikkan terus-menerus.
Refleksi:
Kasih sayang Tuhan melebihi cinta kasih ayah dan ibu kita.
Mzm.27:7-14; Kej.49:1-2, 8-13, 21-26; Luk.1:67-79